RSS

1/31/2015

Dua Arah



Dia mulai was-was.
Sementara dia yang lain dengan buta mengejar angin yang membawanya ke antah berantah.
Dia tidak meninggalkannya, sekali-kali tidak ingin.
Dia juga ingin mengejarnya menggapai angin.
Namun, apa jua, ia sendiri tak tau apa itu angin.

Mereka tersesat dengan sekat setipis bulu.
Mereka terbelenggu akan rantai bak benang merah kusut.
Tidak ada kerenyahan tawa disana, hanya dingin menjalar yang menusuk pelopak mata memandang surya.
Kicauan manis selalu menjadi andalan untuk sejenak melipat buku kenyataan.
Mereka tersenyum kecut penuh tanda tanya.

Dia mulai menapak.
Sementara dia yang lain telah berada di seberang galaksi.
Dia ingin menunggunya meski harus mematahkan kaki yang memaksa menyeret.
Dia tidak tahu lagi arah tercepat mana untuk--setidaknya berada beberapa mil dari seberang galaksi.

Dia ingin, namun tidak tahu ingin itu sendiri apa.
Dia berlari, namun tidak lagi bisa berhenti meski kakinya telah patah.
Mereka hidup,
Dengan pena yang masih tergenggam. Buku kenyataan itu pun memaksa membuka sampulnya. 
Read Comments

12/11/2014

What is LIFE...?




Tutup matamu, bayangkan untuk apa kau hidup
Sebenarnya, “hidup” sendiri itu apa?
Bernafas?
Makan?
Bergerak?
Berbicara?
Oh, beberapa mengatakan bersujud.
Tak ada yang tahu apa itu hidup.
Mereka hanya meneruskan apa yang dikatakan pendahulunya. Ini nyata, kawan.
Lalu, bagaimana kau hidup?
Seperti mayat hidup?
Seperti robot atau bahkan mesin?
Seperti seorang pengahasut waktu?
Atau kau hidup untuk orang lain.
Lagi. Kata-kata manis itu lagi.   
 Bagiku, yang telah kehilangan segalanya dan mendapatkan segalanya, hidup hanyalah aliran waktu.
Apa yang telah kulakukan
Apa yang sedang kulakukan
Apa yang akan kulakukan
Hanya itu, kawan. Hanya itu.
Lantas, mengapalah kau perdebatkan tentang bagaimana kau akan hidup? Menggelikan.
Hidup sajalah, kawan. Tak perlu kau pusingkan hal-hal yang akan membuatmu rusak.  
Orang-orang pun akan silih berganti mengaku saudara.
Nyatanya, kau akan sendirian menjawab pertanyaan sang malaikat.

Read Comments

12/04/2014

Musik dan Golongan darah B

Sebelumnya, ane (baca : saya/ (atau) aku) ingin memperjelas, mempertegas, mempercantik *apanih* bahwa kawan-kawan dengan golongan darah B pasti menyukai musik dan menganggap bahwa dunia hanya miliknya dan musik semata *sok tahu.
Okay, berawal dari penyakit mahasiswa kurang kerjaan yang malas mengerjakan tugas-tugas dan memandang kamar sebagai surga, yaitu 3LB (lemah, letih, lesu, busung lapar) ane bermimpi untuk sedikit mengeluarkan racun yang menggumpal di seluruh jaringan tubuh dengan sedikit menggerakkan otot dan tulang yang sudah terlalu lama dimanja kasur dengan olahraga *ribet. Dan, yang muncul di otak adalah jogging *gauldikit atau bersepeda karena sepeda karatan di rumah tidak pernah terjamah.
Mimpi akhirnya menjadi nyata. Berbekal niat dadakan karena sudah tidak ada kuliah di jam sore, ane berkesempatan menjamah sepeda usang dan menikmati angin berdua dengannya. Niatnya, sih, cuma keliling dekat-dekat saja karena yaaah, ini adalah permulaan setelah hampir 10 tahun tidak berolahraga *lebay.
Tapi, karena angin dan musik yang terlalu memanjakan telinga, ane jadi ketagihan keliling sampai JEC (Jogja Expo Center) dari rumah yang berada di Banguntapan (yang orang Jogja kayaknya tahu jarak itu). Nyanyi-nyanyi teriak-teriak sesuai alunan lagu sudah menjadi karakteristik golongan darah B yang sedang stress dan lelah mengarungi ujian hidup yang tiada berakhir *back_to_top. Ape Gile, masa bodo kata orang, pandangan sirik, aneh bin ajaib yang ditujukan ke penggendara sepeda butut yang teriak serak-serak basah fales itu tidak mengurangi keromantisannya dengan musik ditemani angin.


Lalu, karena selfie dengan wajah atau kaki sudah terlalu mainstream, ane berinovasi selfie gaya baru (semoga belom ada yang nge-hak patenkan) yaitu selfie ciiiisss (baca : pake jari yang dibentuk angka 2). Meskipun HaPe jadul ane adalah merek yang sudah tidak akan bisa dinikmati anak cucu besok (Nok*a), tapi kamera 2.0MPnya masih setia mengabadikan moment itu.
Akhirnya, tidak disangka, kegirangan yang dirasakan sepanjang jalan berakhir tragis dengan kaki (paha) ane yang tidak bisa digerakkan (waktu itu ane istirahat di tempat usaha saudara). Bahkan, ketika beli pulsa dengan jalan kaki, si penjual counter memuji "Tenanan po kui? Koyo wong bar kawin wae (Beneran, tuh? Kayak orang habis menikah)" *hahahaha *tawa_tragis
Terpaksa (nggak, sih) ane memanggil bala bantuan yang siap menolong kapan pun *kayakDoraemon. Orang itu pun datang dan mengantar ane *cieee yang sudah kayak nenek 80an pulang menuju surga kembali dan meninggalkan sepeda butut di tempat usaha saudara ane.
Aaaahhhhh~rasanya nikmat bisa bermesraan dengan musik dan angin lagi ditemani keringat yang harus pergi ketika mandi. Ini adalah kenikmatan yang harus dipelihara sebelum benar-benar tidak bisa lagi merasakannya pada masa depan beberapa puluh tahun lagi :)
Sekiiiiaaaann, matur sankyuu
Read Comments

9/25/2014

Mujarab kah....??



Tidak semua merasa, mereka terlena terlelap malam kelap
Tidak semua menduga mereka dahaga akan doa
Tidak semua melihat dalam terang benderang alang melintang
Kau, aku, kita, kami merasa hal yang sama pada waktu telah tercekit dalam kerongkongan
Telur diujung tanduk pun tidak tahu apakah harus jatuh atau pecah tertunduk
Doa tak lagi memperbaiki
Keringat tak lagi beremas
Kaki tak lagi tertangguh belenggu
Mata pun enggan terpejam dalam gelap
Kau, aku, kita, kami merasa hal itu ketika
Waktu tak lagi bersahabat
Read Comments