12/05/2015
Cerita Baru
di 13.36.00
Bab awal dari cerita baru
Sungguh mendebarkan
Penuh ketegangan
Penuh keterburuan
Penuh keraguan
Penuh pula ketidakstabilan
Tembok yang memang sejak awal kokoh pun mematung
Ia tegak menjulang di depan si kucing yang meringkuk dan tak mau pulang
Bukan salah tembok, bukan pula salah si pembuat
Ia hanya ada karena ia dibutuhkan
Apa daya kucing
Ia mengeong meminta yang bisa dipinta
Ia tak bisa pergi
Siapa yang akan mengelusnya?
Ia hanya akan jadi si jelek yang mati pada akhirnya

1/31/2015
Dua Arah
di 23.53.00
Dia mulai was-was.
Sementara dia yang lain dengan buta mengejar angin yang membawanya ke antah berantah.
Dia tidak meninggalkannya, sekali-kali tidak ingin.
Dia juga ingin mengejarnya menggapai angin.
Namun, apa jua, ia sendiri tak tau apa itu angin.
Mereka tersesat dengan sekat setipis bulu.
Mereka terbelenggu akan rantai bak benang merah kusut.
Tidak ada kerenyahan tawa disana, hanya dingin menjalar yang menusuk pelopak mata memandang surya.
Kicauan manis selalu menjadi andalan untuk sejenak melipat buku kenyataan.
Mereka tersenyum kecut penuh tanda tanya.
Dia mulai menapak.
Sementara dia yang lain telah berada di seberang galaksi.
Dia ingin menunggunya meski harus mematahkan kaki yang memaksa menyeret.
Dia tidak tahu lagi arah tercepat mana untuk--setidaknya berada beberapa mil dari seberang galaksi.
Dia ingin, namun tidak tahu ingin itu sendiri apa.
Dia berlari, namun tidak lagi bisa berhenti meski kakinya telah patah.
Mereka hidup,
Dengan pena yang masih tergenggam. Buku kenyataan itu pun memaksa membuka sampulnya.
12/11/2014
What is LIFE...?
di 20.10.00
Tutup
matamu, bayangkan untuk apa kau hidup
Sebenarnya,
“hidup” sendiri itu apa?
Bernafas?
Makan?
Bergerak?
Berbicara?
Oh,
beberapa mengatakan bersujud.
Tak ada
yang tahu apa itu hidup.
Mereka hanya
meneruskan apa yang dikatakan pendahulunya. Ini nyata, kawan.
Lalu,
bagaimana kau hidup?
Seperti mayat
hidup?
Seperti robot
atau bahkan mesin?
Seperti seorang
pengahasut waktu?
Atau kau
hidup untuk orang lain.
Lagi. Kata-kata
manis itu lagi.
Bagiku, yang telah kehilangan segalanya dan
mendapatkan segalanya, hidup hanyalah aliran waktu.
Apa yang
telah kulakukan
Apa yang
sedang kulakukan
Apa yang
akan kulakukan
Hanya itu,
kawan. Hanya itu.
Lantas,
mengapalah kau perdebatkan tentang bagaimana kau akan hidup? Menggelikan.
Hidup sajalah,
kawan. Tak perlu kau pusingkan hal-hal yang akan membuatmu rusak.
Orang-orang
pun akan silih berganti mengaku saudara.
Nyatanya,
kau akan sendirian menjawab pertanyaan sang malaikat.
12/04/2014
Musik dan Golongan darah B
di 20.21.00
Sebelumnya, ane (baca : saya/ (atau) aku) ingin memperjelas,
mempertegas, mempercantik *apanih* bahwa kawan-kawan dengan golongan
darah B pasti menyukai musik dan menganggap bahwa dunia hanya miliknya
dan musik semata *sok tahu.
Okay, berawal dari penyakit mahasiswa kurang kerjaan yang malas mengerjakan tugas-tugas dan memandang kamar sebagai surga, yaitu 3LB (lemah, letih, lesu, busung lapar) ane bermimpi untuk sedikit mengeluarkan racun yang menggumpal di seluruh jaringan tubuh dengan sedikit menggerakkan otot dan tulang yang sudah terlalu lama dimanja kasur dengan olahraga *ribet. Dan, yang muncul di otak adalah jogging *gauldikit atau bersepeda karena sepeda karatan di rumah tidak pernah terjamah.
Mimpi akhirnya menjadi nyata. Berbekal niat dadakan karena sudah tidak ada kuliah di jam sore, ane berkesempatan menjamah sepeda usang dan menikmati angin berdua dengannya. Niatnya, sih, cuma keliling dekat-dekat saja karena yaaah, ini adalah permulaan setelah hampir 10 tahun tidak berolahraga *lebay.
Tapi, karena angin dan musik yang terlalu memanjakan telinga, ane jadi ketagihan keliling sampai JEC (Jogja Expo Center) dari rumah yang berada di Banguntapan (yang orang Jogja kayaknya tahu jarak itu). Nyanyi-nyanyi teriak-teriak sesuai alunan lagu sudah menjadi karakteristik golongan darah B yang sedang stress dan lelah mengarungi ujian hidup yang tiada berakhir *back_to_top. Ape Gile, masa bodo kata orang, pandangan sirik, aneh bin ajaib yang ditujukan ke penggendara sepeda butut yang teriak serak-serak basah fales itu tidak mengurangi keromantisannya dengan musik ditemani angin.
Lalu, karena selfie dengan wajah atau kaki sudah terlalu mainstream, ane berinovasi selfie gaya baru (semoga belom ada yang nge-hak patenkan) yaitu selfie ciiiisss (baca : pake jari yang dibentuk angka 2). Meskipun HaPe jadul ane adalah merek yang sudah tidak akan bisa dinikmati anak cucu besok (Nok*a), tapi kamera 2.0MPnya masih setia mengabadikan moment itu.
Akhirnya, tidak disangka, kegirangan yang dirasakan sepanjang jalan berakhir tragis dengan kaki (paha) ane yang tidak bisa digerakkan (waktu itu ane istirahat di tempat usaha saudara). Bahkan, ketika beli pulsa dengan jalan kaki, si penjual counter memuji "Tenanan po kui? Koyo wong bar kawin wae (Beneran, tuh? Kayak orang habis menikah)" *hahahaha *tawa_tragis
Terpaksa (nggak, sih) ane memanggil bala bantuan yang siap menolong kapan pun *kayakDoraemon. Orang itu pun datang dan mengantar ane *cieee yang sudah kayak nenek 80an pulang menuju surga kembali dan meninggalkan sepeda butut di tempat usaha saudara ane.
Aaaahhhhh~rasanya nikmat bisa bermesraan dengan musik dan angin lagi ditemani keringat yang harus pergi ketika mandi. Ini adalah kenikmatan yang harus dipelihara sebelum benar-benar tidak bisa lagi merasakannya pada masa depan beberapa puluh tahun lagi :)
Sekiiiiaaaann, matur sankyuu
Okay, berawal dari penyakit mahasiswa kurang kerjaan yang malas mengerjakan tugas-tugas dan memandang kamar sebagai surga, yaitu 3LB (lemah, letih, lesu, busung lapar) ane bermimpi untuk sedikit mengeluarkan racun yang menggumpal di seluruh jaringan tubuh dengan sedikit menggerakkan otot dan tulang yang sudah terlalu lama dimanja kasur dengan olahraga *ribet. Dan, yang muncul di otak adalah jogging *gauldikit atau bersepeda karena sepeda karatan di rumah tidak pernah terjamah.
Mimpi akhirnya menjadi nyata. Berbekal niat dadakan karena sudah tidak ada kuliah di jam sore, ane berkesempatan menjamah sepeda usang dan menikmati angin berdua dengannya. Niatnya, sih, cuma keliling dekat-dekat saja karena yaaah, ini adalah permulaan setelah hampir 10 tahun tidak berolahraga *lebay.
Tapi, karena angin dan musik yang terlalu memanjakan telinga, ane jadi ketagihan keliling sampai JEC (Jogja Expo Center) dari rumah yang berada di Banguntapan (yang orang Jogja kayaknya tahu jarak itu). Nyanyi-nyanyi teriak-teriak sesuai alunan lagu sudah menjadi karakteristik golongan darah B yang sedang stress dan lelah mengarungi ujian hidup yang tiada berakhir *back_to_top. Ape Gile, masa bodo kata orang, pandangan sirik, aneh bin ajaib yang ditujukan ke penggendara sepeda butut yang teriak serak-serak basah fales itu tidak mengurangi keromantisannya dengan musik ditemani angin.
Lalu, karena selfie dengan wajah atau kaki sudah terlalu mainstream, ane berinovasi selfie gaya baru (semoga belom ada yang nge-hak patenkan) yaitu selfie ciiiisss (baca : pake jari yang dibentuk angka 2). Meskipun HaPe jadul ane adalah merek yang sudah tidak akan bisa dinikmati anak cucu besok (Nok*a), tapi kamera 2.0MPnya masih setia mengabadikan moment itu.
Akhirnya, tidak disangka, kegirangan yang dirasakan sepanjang jalan berakhir tragis dengan kaki (paha) ane yang tidak bisa digerakkan (waktu itu ane istirahat di tempat usaha saudara). Bahkan, ketika beli pulsa dengan jalan kaki, si penjual counter memuji "Tenanan po kui? Koyo wong bar kawin wae (Beneran, tuh? Kayak orang habis menikah)" *hahahaha *tawa_tragis
Terpaksa (nggak, sih) ane memanggil bala bantuan yang siap menolong kapan pun *kayakDoraemon. Orang itu pun datang dan mengantar ane *cieee yang sudah kayak nenek 80an pulang menuju surga kembali dan meninggalkan sepeda butut di tempat usaha saudara ane.
Aaaahhhhh~rasanya nikmat bisa bermesraan dengan musik dan angin lagi ditemani keringat yang harus pergi ketika mandi. Ini adalah kenikmatan yang harus dipelihara sebelum benar-benar tidak bisa lagi merasakannya pada masa depan beberapa puluh tahun lagi :)
Sekiiiiaaaann, matur sankyuu
Langganan:
Postingan (Atom)



.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


