RSS

9/25/2014

Mujarab kah....??



Tidak semua merasa, mereka terlena terlelap malam kelap
Tidak semua menduga mereka dahaga akan doa
Tidak semua melihat dalam terang benderang alang melintang
Kau, aku, kita, kami merasa hal yang sama pada waktu telah tercekit dalam kerongkongan
Telur diujung tanduk pun tidak tahu apakah harus jatuh atau pecah tertunduk
Doa tak lagi memperbaiki
Keringat tak lagi beremas
Kaki tak lagi tertangguh belenggu
Mata pun enggan terpejam dalam gelap
Kau, aku, kita, kami merasa hal itu ketika
Waktu tak lagi bersahabat
Read Comments

6/25/2014

Tangan kiri

Pernahkah kau dengar tentang ocehan orang tua mengenai “tangan baik”?
Ia (yang lain) sebenarnya tak berbuat apa pun.
Tak melakukan apa pun.

Kasihan.
Dibuang bahkan sebelum digunakan.
Dicemooh bahkan sebelum terdengar.
Kasihan.


Padahal, kalian akan merenggang nyawa apabila ia tak ada.
Kalian akan pincang apabila ia cacat.
Hanya karena kebetulan ia tak mendapat tempat yang layak.
Mendapat tugas paksaan yang tak layak pula.
Kasihan.

Andai ia dapat berkoar, ia akan menghujam kalian dengan apa yang kalian berikan. Bahkan lebih.
Andai ia benyawa, ia akan dengan senang hati meninggalkan kalian meratap letih.
Andai ia berambisi, ia akan melumat jantung kalian hingga tertindih.

Namun, tetap, ia hanya bisa mengawasi perbuatan kalian hingga akhir pembalasan nanti.
Read Comments

Permainan



Semakin dilihat, semakin sakit.
Bedebah bermuka dua yang terus bermain api di dalam hutan bakau.
 Ia menikmati permainannya.
Mereka menikmati permainannya.
Entah apa yang ada dalam otak si bedebah itu.
Ia hanya senang mengaduk daun yang perlahan berjamur.

Sudah terlambat pabila kau berkata dapat merapikan benang yang kusut.
Satu-satunya cara adalah menggunting beberapa helainya.
Kau harus siap kehilangan beberapa, atau bahkan semua.
Itulah game over permainanmu.

Tapi, tidak.
Sepertinya kau masih punya beberapa babak lagi.

Akan kau mainkan seperti apa, hei bedebah? 
Read Comments

Salinan




Pabila melihatnya, seperti paku yang dicabut dari pohon.
Atau seperti luka naga yang dicakar oleh singa.
Sakit, memang. Tapi, menyenangkan.
Karena jaring laba-laba sudah mulai terkikis air hujan.
Nah, sekarang aku layaknya kucing yang diinjak ekornya.
Tak bisa berbuat apa-apa. Tak ingin pula berbuat apa-apa.
Hanya, cukup.

Entah akan seperti apa, namun masih ada ikatan yang sepertinya bisa kueratkan
Entah akan bagaimana, namun masih ada beberapa memoir yang kaku disana
Entah kapan, namun pasti badai yang lebih besar akan menyambar.
Entah siapa, namun yang menggarap ladang tetaplah ia, bukan?
Entah dimana, namun tidak di tempat yang sama.
Entah mengapa, si keong masih sanggup tinggal dalam rumahnya. Masih.

Oh, ini bukanlah cerita tentang putri duyung yang rela menanggalkan siripnya.
Ia hanya terlalu bodoh untuk menjadi buih.
Bukan cerita tentang seberapa besar kalimat yang diutarakan.
Bukan pula curhatan si gadis malang tentang kisah cintanya di kamar yang sempit.

Hanya, sedikit petikan gitar yang merajai sejuta arti.
Read Comments